How Much are You Willing to Pay?

So I was listening to Hillsong Worship’s Grace to Grace when this thought strucked my mind.

How much are you willing to pay to have someone’s heart?

I mean, I’m that kind of person who give it all when I truly love something. By “all” here, I mean time, energy, attention. You all know that I’m so into badminton, I travel just to watch a tournament. I spent money (that my friends would normally spend for holiday or staycation) to buy tickets for badminton events.

And I love makeups. Duh. I do 😂

And you don’t wanna know how much I spent on those lipsticks. Trust me.

But for someone… how much are you willing to pay?

It’s easy if that someone is your dearest. Your spouse. Your child. Your boyfriend or girlfriend. Your dad. Your mom.

But how if this someone is someone who is on-and-off to you? Someone who, most of the times, take you for granted. Someone who keeps disappointing you. The one who does not keep his or her word. Someone who intentionally and/or unintentionally hurting you. Someone who fails you over and over again.

How much are you willing to pay to have this particular person’s heart?

To have my heart, Jesus paid it with His life.

When I said someone who is on-and-off, who takes for granted, who keeps disappointing, who does not keep her words, who intentionally or unintentionally hurting, who fails over and over again, I was referring to myself.

Yet, I bet, Jesus has never regretted that He has paid the price to have my heart. Not a single second.

And I’m forever grateful for that.

If having my heart was worth the pain
What joy could You see beyond the grave
If love found my soul worth dying for

If freedom is worth the life You raised
Oh where is my sin where is my shame
If love paid it all to have my heart

How wonderful
How glorious
My Saviour’s scars
My chains are gone
My debt is paid
From death to life
And grace to grace.


Things Take Time

This is what I learned when I run to chase my bus this morning. The very first time I run after I fell down and got my leg sprained two weeks ago.

These are not my legs :’) Photo is for illustration purposes only.

Dua minggu lalu, gue jatuh di halte, pas ngejar bus ke kantor juga 😂 It was pretty bad sampai celana bahan gue sobek, dan dua hari nggak bisa jalan. Sampai sekarang juga gue masih pakai sandal ke mana-mana (sepatunya belum muat karena kakinya bengkak 😂) dan kaki yang keseleo juga masih kaku banget.

Tapi, tadi pagi gue terpaksa lari demi mengejar bus.. dan rasanya kayak lari pake kaki kayu 😅 Padahal, udah nggak sabar pengen main oBike lagi, pengen jogging lagi (pencitraan)..

But it feels like I’m being reminded that… things take time.

Healing takes time.

Love takes time.

Success takes time.

It’s just so sync with the message that I got yesterday: 

It’s definitely not easy for me. I’m a choleric and I like to be in control. The wait-and-delay game frustrates me. But, as Ps. Steven Furtick once said,

The only way God can show us He’s in control is to put us in situations we can’t control.

I am glad He is teaching me this, and as usual, I find Him more trustworthy than me, myself.

So, don’t rush. Do your part, and pray while you wait. Someday, you will understand the delay.

Kevin, Gideon, Minions, dan All England

It’s been a week since Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo clinched their first ever All England title. Yet, it still feels so surreal to me :’)

Gue pertama lihat Kevin/Gideon di pertandingan beregu di SEA Games 2015. Waktu itu udah lamaaa gue gak ngikutin badminton gegara kerja dsb. Tapi nggak tau kenapa, saat melihat Kevin/Gideon di SEA Games 2015 itu gue jadi deja vu… seperti melihat lagi Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996, momen yang membuat gue pertama kali jatuh cinta pada bulutangkis.

They finished as second best at SEA Games 2015, lost to their seniors, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. And this is the beginning of the story of how I have my eyes on them.

Kevin/Gideon yang bikin gue jadi semangat ngikutin bulutangkis lagi. They’ve brought back the feeling and excitement I’ve forgotten for almost 7 years. Padahal waktu itu bisa dibilang mereka masih “bukan siapa-siapa”. Di bawah bayang-bayang Hendra/Ahsan dan Angga/Ricky pokoknya. But I have faith in them!

Seperti ada sesuatu dalam diri mereka, the X factor which I could not explain, yang bikin gue percaya, suatu hari nanti mereka akan jadi bintang besar. Mereka memang terbilang “mini” untuk ukuran pemain ganda putra (Gideon 169 cm, Kevin 170 cm), tapi lincahnya bukan main! Kalau di lapangan, seperti bisa membal ke sana kemari dengan sangat cepat! That’s why, and how, I started to call them “Minions” 🤗

Gue sempat ketemu Gideon pas SEA Games 2015 itu. Sama Angga, Ricky, Kevin, Jordan, Debby dan beberapa atlet lainnya juga, di daerah City Hall. Ajegile, pas ketemu mah I totally got star-strucked, tapi muka badak aja nyapa dan ngajak foto bareng. Yang sama Kevin nggak sempat foto bareng, soalnya doi lagi.. beli pulsa, dan malah kelihatan nervous gitu gue samperin. MWAHAHA. Harusnya sih gue yang nervous, Vin.

With Ricky and Gideon. Aslinya mah minian gue daripada Gideon :’)

Di beberapa turnamen paska SEA Games, Minions masih suka naik-turun, nggak stabil. Mungkin mereka masih berusaha nyari pola permainan yang cocok, masih beradaptasi.

Waktu mereka merangsek ke final Taipei Grand Prix Gold 2015, I know the time has come. Memang mereka akhirnya kalah dari Zhang Nan/Fu Haifeng di final, but deep inside I believe they are on the right track.

Muka Gideon sedih amat, rasanya pengen gue puk-puk :’)

Sampai akhirnya mereka jadi juara di Taipei Grand Prix, akhir 2015…

Kemudian, juara Malaysia Grand Prix Gold di awal 2016…

Lalu gelar Super Series pertama mereka di India Super Series 2016…

Lanjut ke Australia Super Series 2016…

Naik level lagi ke juara China Super Series Premiere 2016…

Dan puncaknya mereka juara di All England, turnamen bulutangkis tertua di dunia yang jadi mimpi begitu banyak pebulutangkis terkenal. I truly, seriously, definitely, couldn’t be happier 😭❤


I cried the night they won their All England title.

Because I was too happy. Too proud. And too worry. It’s all mixed up to the extent I couldn’t name the feeling.

In his interview with BWF, Kevin said, “This is an extraordinary feeling. It was my childhood dream to win the All England. I didn’t expect it to happen so soon but I am extremely happy.”

You know what? I didn’t expect it to happen this soon, either :’)

And the victory has brought them as BWF WORLD #1 RANK IN MEN’S DOUBLES 😭❤

I’ve seen them fought. Lost. Won. Fell. Rose again. Makin banyak yang kenal mereka, yang menaruh harap pada mereka. Mereka bukan lagi “bukan siapa-siapa”. And I’m not ready for it. I’m not ready that now I have to share my happy-little-world of Minions with hundred thousands of people, or even millions, out there.

I saw Kevin/Gideon’s fan base accounts emerge in social media. I saw more and more people cheer for both of them. I read how much they adore Kevin and Gideon.

And I worry that it will only be temporary.

Sooner or later, there will be time when Minions don’t end up as a champion. Mungkin mereka akan kalah di R1, R2, quarter final, semifinal, bahkan di final itu sendiri. Mereka mungkin akan kecewa, mengecewakan, dikecewakan.

And being a BL (Badminton Lover) myself, I know how mean, rude, and harsh the comment could be, if Minions fail to meet the expectation. I might say, “Who cares?” But my heart is still wrecked whenever I read those heartless comments. I feel like saying, “How dare you! You just know them recently, you have no idea how hard they have been fighting for this!”

*kemudian toyor kepala mereka satu-satu*

Gue yang pertama menjuluki mereka Minions, dan sekarang gue melihat julukan itu beredar di mana-mana. I still got a tingling feeling when I read the nickname at Kompas, when I heard it at Kevin/Gideon’s interview at Metro TV, but more than everything… I am happy 😭❤ Itu berarti, Kevin/Gideon bukan lagi Minions idola gue saja, tapi sekarang idola banyak orang.

Semua perasaan campur aduk yang gue rasakan itu sudah berhasil ditutupi oleh perasaan bangga, because I have witnessed them grow from zero to hero.

Asem, kok gue jadi merasa kayak ibu yang bahagia melihat anaknya tumbuh dewasa? 😂

Afterall, I wanna say thank you, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, my Minions.. our Minions, for letting me seeing you grow. Won. Lost. Got back on your feet. Walk. Run. And now fly. Keep up the good fight and win more races!

Tetap jadi Kevin yang medhok, tukang molor. Juga Gideon yang suaranya cempreng (ini beneran gue kaget pertama dengar suaranya, LOL) tapi dewasa. Keep being you.

I’ll see you next month!

PS: Bonus foto bareng Kevin di World Championship 2015 (waktu itu doi belum ikutan, tapi mudah-mudahan tahun ini Juara Dunia, yess?) dan Djarum Superliga 2017 di Surabaya.

After 19 Years…

I finally managed to cross this thing from my bucket list:

Meet The Moffatts in person and take pic with them.

HAHAHA. Oh well, setiap orang punya mimpi, dan salah satu mimpi saya “sesederhana” di atas. Life of a fangirl, huh?

FYI, tahun-tahun fangirling saya bisa dibilang terbagi dalam beberapa era:

Umur 8 tahun: jatuh cinta pertama kali sama badminton, gegara Olimpiade Atlanta 1996. Yang mau tau cerita lengkapnya silakan baca novel Badminton Freak 😆 Suka badmintonnya sih masih lanjoooottt sampai sekarang.

Umur 9-13 tahun: tergila-gila sama The Moffatts, band pop rock asal Kanada yang beranggotakan 4 orang kakak-beradik: Scott, Clint, Bob, dan Dave (tiga yang terakhir itu triplets)

Umur 18 (sampai sekarang): Head over heels for Daughtry.

Nah, saya udah pernah nonton konser Daughtry dua kali, dan udah nggak kehitung seberapa sering nonton turnamen badminton, tapi yang namanya The Moffatts, meski masih punya dua posternya di belakang pintu kamar saya di Surabaya… saya sama sekali belum pernah ketemu. Yah, secara mereka udah bubar tahun 2001, dan zaman ngefans mereka tuh saya masih SD, nggak mungkin juga dikasih izin Mamah nonton konsernya. Plus nggak punya duit juga buat ngebolang ke Jakarta. LOL.

To be honest, saya sebenarnya bisa dibilang udah agak-agak lupa sama The Moffatts. Terakhir dengar lagunya aja udah beberapa tahun lalu gitu. Dan banyak ini-itu dalam hidup yang bikin band ini terdorong ke salah satu sudut laci memori saya. Nggak pernah benar-benar dilupakan, tapi juga nggak pernah diingat-ingat lagi.

Sampai hari Minggu, 19 Februari 2017. Waktu itu saya baca di CNN Indonesia, The Moffatts mengadakan konser di Jakarta, tanggal 19-20 Februari itu.

I was stunned. Laci yang sudah lama tertutup itu terbuka lagi. Buat kalian yang grew up dengan lagu-lagu dari band atau musisi tertentu, you know how it feels like. You owe some part of your life to them. Dan musik The Moffatts lah yang, somehow, menyemai bibit-bibit romantis dalam diri saya yang akhirnya membuat saya bisa jadi seorang penulis 😂 Bener lho.

Sayang, waktu itu sudah terlalu mepet untuk saya beli tiket pesawat dan terbang ke Jakarta untuk nonton konsernya. Mana saya sudah berencana pulang ke Surabaya tgl 24-27 Februari, jadi rasanya nggak masuk akal kalau tanggal 20-nya saya ke Jakarta juga. Apa kata bos kalau saya cuti dadakan, ya gak? So I took it as, “Maybe it’s not meant to be”.

Tapi besoknya, saya nonton The Moffatts di Sapa Indonesia Siang di Kompas TV, mendengarkan mereka membawakan lagu-lagu andalan mereka secara live, bagaimana cara mereka memecah suara masih saja secetar dulu dan bahkan lebih matang lagi…

Dan mereka bilang bahwa kedatangan mereka ke Asia Tenggara kali ini bukan hanya tur biasa, melainkan Farewell Tour, karena saat mereka bubar tahun 2001 lalu, they didn’t say goodbye to their fans in a proper way.

Plus, mereka bukan hanya datang di Jakarta, tapi juga akan ke Bali tanggal 24, dan ke Singapore tanggal 26-nya (saat saya nggak ada di sini)!

I was like: how dare you come to Singapore when I am going back to Indo??? 😂😂😂

HAHAHAHA. Asli, stres banget saya waktu itu, Kak Emma. Rasanya pengen batalin pulang ke Surabaya tanggal 24-nya, tapi nggak mungkin juga karena pas itu ada Djarum Superliga Badminton dan saya udah beli tiket PP dll-nya. Totalitas, huh?

Satu-satunya cara kalau saya mau nonton The Moffatts adalah… saya harus “mampir” ke Bali tanggal 24. Tapi itu juga gila karena berarti tiket Singapore-Surabaya saya hangus dan saya harus beli tiket Singapore-Denpasar dan Denpasar-Surabaya.

Suer, saya nggak bisa mikir di kantor. Sambil curi-curi nonton Sapa Indonesia Siang (dan terkesima dengan perut Scott yang sekarang udah buncit plus Clint dan Bob yang sekarang udah berjenggot ala-ala hipster masa kini), saya ngecek harga tiket pesawat ke Bali. Okelah, not that expensive. But the question is, should I give it a go? Orang-orang yang kenal dekat dengan saya pasti tahu saya itu orangnya paling nggak bisa kena last-minute changes, apalagi kalau plan A-nya sudah disusun dengan matang. Kalau saya ke Bali, saya bukan saja mengubah rencana, tapi juga mengacak-acak plan A saya! 😅

Karena bingung, saya WhatsApp Mama, “Mami, aku boleh ga ke Bali nonton The Moffatts? Dari Bali baru aku ke Surabaya.”

Sehari sebelumnya saya memang sudah iseng cerita di grup keluarga tentang jadwal saya yang apes banget karena bertubrukan dengan The Moffatts, tapi waktu itu kan saya belum kepikiran untuk sampai ngintilin mereka ke Bali.

Mama cuma balas, “Ok. Nggak bisa periksa mata dong?”

Saya memang berencana ke dokter mata tanggal 24 itu, but hey… WHAT??? Did my mom give her permission?!


Saking senangnya, saya langsung booking tiket pesawat dan hotel menit itu juga. Beli tiket konsernya juga dari Lumayan worth it sih, IDR 300k tapi konsernya di Hard Rock Cafe.

I’m going to meet my childhood idol!


H-1, 23 Februari, saya baru nyadar bahwa tiket The Moffatts ada dua tipe: standard (konser doang) IDR 300k, dan VIP (dapat dinner, merchandise, dan Meet & Greet bareng The Moffatts) IDR 1,1jt.

Dan tiket saya standard aja dooong. GLEK. Langsung pengen upgrade ke VIP karena… we’re talking about a 19-years-old-dream here, don’t we? Anggap aja 1,1jt itu hasil nabung 19 tahun 😳

Saya kemudian kontak pihak Hard Rock Cafe Bali melalui Instagram mereka, nanya tentang upgrade tiket dari standard ke VIP. Tapi, karena saya beli tiketnya dari rajakarcis (bukan dari HRC), mereka nggak bisa meng-upgrade tiketnya. Upgrade cuma bisa dilakukan untuk tiket yang dibeli langsung dari HRC.

Muncul pikiran gila: udah, beli lagi aja tiket VIP. Tutup mata deh, demi, demiiii. Kapan lagi ketemu The Moffatts in person?

Thank God banget, pihak HRC masih punya tiket VIP-nya. Saya pun reserve satu (dibantu sama Mbak Cindy yang asli baiknya paraaah), dan janji ambil tiket di hari H. Fiuhhhh, lega.


Hari H, 24 Februari, saya sampai di Bali jam 2.30 WITA. Kelar naruh barang di hotel, pergi cari titipan Mama, mandi dan dandan yang kinclong, saya tancap gas ke HRC. Di depannya sudah ada poster The Moffatts segede rindu pada mereka. Hihihi. Duh, lihat posternya aja udah deg-degan nggak keruan. I’m really turning my dream into reality 😱💕


Pas lagi ngurus tukar tiket sama Mbak Cindy di Hard Rock Restaurant, saya dengar ada yang lagi sound check di HRC. Suaranya terdengar familiar biarpun cuma test-test-test dan instruksi dalam bahasa tesound system dan musik yang sama sekali nggak masuk di telinga saya. But I’m pretty sure it’s The Moffatts themselves.

Pucuk dicinta ulam tiba, kelar urusan tiket ternyata penonton VIP dibolehin nonton sound check! Sambil nunggu makan malamnya disiapin, katanya. Oh my, saya langsung ngibrit ke balkon restoran yang bisa lihat stage HRC di bawah. And yes, they’re there.

Scott, Clint, and Bob Moffatt… in flesh, just a few meters away from me. I could hardly believe my eyes! Mereka ngetes sendiri instrumen mereka dan soundnya, dibantu Frank Moffatt, bokap sekaligus manajer The Moffatts sedari dulu.

Gila, saya nggak bisa gambarin gimana perasaan saya… I mean, how does it feel like, seeing the faces that was once over your bedroom walls, now standing right in front of you? Magical. Surreal. Like you’re dreaming but you can’t (and don’t want to) wake up.

Oh ya, buat yang bertanya-tanya kenapa personel The Moffatts yang datang cuma tiga, where’s Dave dsb… well, Scott cs bilang Dave sedang sibuk jadi instruktur yoga di Kanada and music is not his priority at this moment, but… it’s also not a secret that Dave has issues with Moffatts’ dad and manager, so yah…

Tapi saya memutuskan untuk menikmati saja hari itu, meski personel favorit saya dari dulu adalah Dave. I mean, ya udahlah kalau memang nggak bisa ikut. Masih ada tiga lainnya, ini.

Kelar nonton sound check, penonton VIP disediakan makan di Hard Rock Restaurant dengan view ke Hard Rock Hotel. Wah gile, daebak banget makanannya! Mulai dari salad, sup, pasta, beef stroganoff, kung pao chicken, pokoknya buanyak dan enak! Meski perut mules mau ketemu Moffatts, tetap harus makan dong, jangan sampai pingsan. Iya kalau ditangkap sama salah satu dari mereka. Kalau nggak kan berabe 😳

Begonya, saya nggak sadar kalau dinner untuk penonton VIP itu adalah… dinner with The Moffatts! Saya baru nyadar waktu ngelihat satu meja di sudut yang diberi pembatas, yang cuma 1-2 meter dari meja saya. Gile, is this for real? Mereka bakal makan di situ kemudian mingle, gitu? *perut makin mules*

Dan bener aja, nggak lama kemudian mereka datang, duduk di meja itu, bikin semua napsu makan saya menguap entah ke mana. Orang EO-nya sih lumayan waspada jagain, dan kita semua meski gemesssss tapi well-behaved (baca: jaim) lah yaaa. Udah nggak beringas kayak zaman abege dulu lagi, mwahaha.


Tuh, dekeeeet banget, kan? Ditimpukin kacang juga nengok kali itu Scott 😂 Sayang karena udah kemalaman, mereka nggak sempat mingling ke meja-meja penonton. Dengar-dengar sih yang di Jakarta dapet tuh minglingnya.

Oh ya, ada cerita kocak nih… pas lagi nungguin mereka makan itu, saya dan beberapa cewek lain pengen ke toilet. Kalau kalian lihat di foto di atas, toiletnya di balik jeruji di belakang Clint itu. Toiletnya cuma ada dua, tapi satu untuk cewek, dan satu cowok. Berhubung banyak cewek yang ngantre dan toilet ceweknya cuma satu, saya berinisiatif pakai toilet cowok. Sama aja gitu, dan toiletnya juga kosong.

Tapi, setelah saya keluar dari toilet itu, coba tebak siapa yang mau pakai toiletnya? Bob Moffatt! Aselik ya, saya tuh cuma bisa melongo ngelihat Bob lewat depan mata saya dan masukin toilet yang barusan saya pakai. Gile, untung aja nggak pake jejeritan histeris! 😂

Setelah bersabar nunggu mas-mas Moffatts makan, tibalah saat yang ditunggu-tunggu… meet and greet session! 😍 Jadi peraturannya tuh kita tulis nama kita di sehelai kertas, terus bakal dipanggil sesuai nomor urut untuk foto bareng The Moffatts. Kertas bertuliskan nama itu nanti dikasihkan ke salah satu personel The Moffatts untuk dituliskan di kartu merchandise yang sudah disiapkan sama EO. Biar personalised dan nggak salah eja gitchuw ceritanya. Sayang banget kita nggak boleh selfie atau motret pakai kamera sendiri, karena bakal bikin antreannya jadi lambat. Sebagai gantinya, EO akan kasih kita satu foto polaroid bareng plus foto pakai kamera DSLR yang nantinya bisa diambil di Facebook page EO-nya. Okelah, not bad. Lagian sungkan juga kalau mau ngajakin selfie, huhuhu. Sambil nunggu giliran, saya mikir mau ngomong apa ke The Moffatts. Duh, kepala beneran nggak bisa dipakai mikir saking nervousnya!

Waktu akhirnya saya dapat giliran, Clint yang ngambil kertas bertuliskan nama saya dan menuliskannya di kartu. Saya cuma bisa balas “hai” dari Scott dan Clint dengan cengo, while they give me pat on my shoulder. Saya dulu mikir mereka pasti jangkung-jangkung banget, secara bule gitu. But surprisingly tinggi saya setelinga mereka, jadi mungkin mereka 170 cm-an gitu. And their faces, their eyes… gile, ini wajah orang-orang yang dari dulu cuma saya pandangi di poster! 😳😳😳

Saya bilang ke mereka, “Hi, I’m Stephanie. I flew all the way from Singapore to meet you guys.”

Mereka kontan bilang, “But we have show in Singapore tomorrow!”

“Yeah, but I already bought the ticket to go back to my hometown, won’t be in Singapore. So I just bought new ticket to Bali just to catch up with you.”

Scott looked genuinely surprised, and he said, “Hope you enjoy the show!”

Terus saya foto bareng mereka. Masih blur dan agak-agak nggak percaya. Saking blurnya, saya sampai nyaris lupa mengambil hasil foto polaroid saya dari orang EO-nya. Untung Mbak EO-nya manggil buat ngasih foto 😂 Parah, udah ketemu idola, semua jadi lupa.

Anyway, ini hasil foto polaroid saya sama mereka. Thankfully I look (ehem) cute in the pic.


Dan ini foto yang dari DSLR EO-nya. Saya nggak tahu dah lihat ke arah mana, bingung karena kebanyakan kamera yang motret (ada sekitar 3-4 orang gitu). Maklum, nggak biasa dipotret segitu banyak orang sekaligus, nggak bakat jadi seleb 😗


Habis foto, saya turun ke HRC untuk nunggu show mulai. Langsung mengamankan posisi di barisan paling depan, persis di depan stand mikenya Clint. MWAHAHA. Salah satu privilege untuk penonton VIP memang bisa dapet tempat nonton yang pewe, karena kita boleh masuk venuenya sebelum pemegang tiket standard masuk.

Sambil nunggu shownya mulai, saya foto-foto dulu kartu merchandise yang tadi ditandatangani Scott, Clint dan Bob. Sekalian sama tiket konsernya. Bakal jadi memorabilia banget deh benda-benda ini!  ❤


BTW foto ini kan saya upload di Instagram, dan di-like sama Clint dan Bob! 😍


Oh ya, nungguin konsernya mulai lumayan lama, karena ada masalah teknis di sound systemnya. Gitar akustik (yang nantinya dipakai Clint untuk bawain lagu Same Same) nggak mau konek sama amplinya atau gimanaaa gitu. Sampai akhirnya gitarnya diganti dengan gitar lain. Ada kali 2 jam kita nunggu, plus dengerin 2 album The Moffatts yang diputar sama HRC 😂

Dan akhirnyaaaa… yang ditunggu-tunggu nongol juga! Masalah teknis beres, Scott, Clint dan Bob pun naik ke panggung. Wah, bayangin aja jejeritan cewek-cewek kayak gimana. You barely could hear Scott said “Hello, Bali!”

Scott pakai baju yang dia pakai sewaktu check sound dan M&G: kaus garis-garis hitam putih, shorts, topi merah, dan… kaus kaki yang nggak nyambung sama sepatunya 😂 Fashion disaster banget sih sebenernya doi, mana udah buncit perutnya (sssttt), pokoknya beda jauh sama Scott dengan rambut panjang pirang yang kita ingat dulu. Tapi terlepas dari semua itu, entah kenapa Scott selalu kelihatan “charming”. Menarik. Apa ya… susah dijelasin pokoknya. Apalagi kalau dia sudah pegang gitar dan nyanyi, nggak ada yang ingat deh sama perut, kaus kaki atau sepatunya. Hahaha.


Bob gayanya sama sekali nggak berubah. Kayaknya dari dulu dia yang paling cool dan santai. Malam itu juga cuma pakai kaos, shorts, sneakers dan topi. Makin mirip sama Clint karena rambutnya sekarang nggak jauh beda, cuma bedanya Clint punya tato aja.


Clint masih setia dengan kaus buntungnya, tapi beda dengan yang dipakai waktu M&G. Asli, cuma Scott yang nggak ganti baju! Oalah, Bang, Bang…


Yep, that’s how close I stood to Clint. Beneran kalau mau ngulurin tangan sih gampang banget megang kakinya. Tapi ya nggak lucu gitu kalau saya ditendang.

Mereka bawain banyak banget lagu-lagu hits mereka, mulai dari Bang Bang Boom, Who Do You Love?, I’ll Be There For You, Girl of My Dreams, Love, If Life is So Short, Girls of the World, Just Another Phase, Call the Doctor, Until You Loved Me, Misery, dan tentu saja Miss You Like Crazy. Sempat ada juga sesi di mana Clint dan Bob ninggalin Scott sendirian di panggung untuk bawain lagu-lagu solonya. Lumayan easy listening lagu-lagunya si Abang, walau banyak banget elemen-elemen di sana-sini yang nggak-The-Moffatts-banget, but apparently that’s how Scott’s music is. Groovenya Scott jangan ditanya deh, asli asik banget kalau dia udah nyanyi dan goyang ngikutin lagu.

Habis itu, gantian Scott yang ninggalin Clint dan Bob di panggung. Mereka bawain lagu dari band mereka sekarang, Endless Summer. Ada juga lagu saat nama duo mereka masih Same Same: Love Isn’t. Mereka juga nyanyiin lagunya Ronan Keating yang When You Say Nothing at All.

Ahhh… asli, kayak balik ke masa SD saat nggak ada berhentinya muter kaset mereka. Saya masih hapal mati lagu-lagunya. Rada takjub juga sih, karena dulu bahasa Inggris saya kan masih cetek banget, tapi bisa hapal lirik tanpa tahu artinya. Giliran sekarang dinyanyiin lagi baru, “Oooh… ini toh arti liriknya!”

Tapi masih nggak paham juga Antifreeze and Aeroplanes itu maksudnya apa 😂

Oh ya, tengah-tengah Scott manggung, sempat ada masalah dengan sound systemnya. Ada microphone feedback nyaring banget sampai dua kali, bikin Scott agak ngomel (tapi ngomelnya aja keren, haha!) tapi tetap jalan terooos sama lagunya. Top deh, Bang!

Si Clint juga kocak banget, menjelang konser selesai, dia ambil kertas yang berisi order of play lagu mereka, melipatnya jadi pesawat kertas dan melemparnya ke penonton. Penonton langsung kayak rebutan sembako. Entah jadi robek atau nggak tuh pesawat kertas.

Menjelang jam 1 pagi, Scott, Clint dan Bob berdiri di tengah panggung, dan sambil bergandengan tangan, mereka memberi hormat sekaligus berpamitan. Huhuhu, sedih banget rasanya. Tapi saya tahu The Moffatts akan tetap selalu ada di hati para fans mereka. So thank you, The Moffatts, for making my teenage years colourful. Thank you for making that night meaningful. It was worth the 19 years of waiting.

I’m gonna miss you like crazy 🤗

PS: Foto dan video-video lainnya bisa dilihat di sini. Abaikan suara speaker bas Clint yang cetar membahana ya, LOL.


Mungkin Ahok Belum Bisa Menang Satu Putaran Karena Ahokers

… yang arogan.

Sebelum saya mulai, ada baiknya saya kasih tahu dulu: KTP saya bukan DKI.

Tapi saya fans Pak Ahok. Ahokers. You name it.

Bukan karena saya seagama dengan Pak Ahok. Bukan juga karena saya setengah Cina.

Tapi karena saya, sebagai orang yang sering main ke Jakarta, melihat betapa banyak Jakarta sudah berubah menjadi lebih baik, sejak di bawah kepemimpinan Ahok.


Oke, kita lanjut.

Selama masa kampanye hingga hari Pilkada DKI kemarin, saya cukup gencar berbagi di sosmed tentang apa saja pencapaian Pak Ahok. Sedihnya, itu sama gencarnya dengan saya ngeledekin atau nyinyirin Mas Agus dan Mas Anies, apalagi Pepo 😂

Saya, dulu, menganggap itu hal yang normal. Pendukung kandidat yang satu meledek kandidat yang lain, pendukung kandidat yang lain meledek balik. Sampai suatu hari, saya melihat seorang yang saya kagumi, yang juga teman saya di Facebook, menulis bahwa ia membenci Ahok bukan karena Ahok-nya, namun karena pendukungnya yang arogan.

I was stunned.

Ia menulis, ia sudah bukan hanya ilfil lagi, namun sudah muak melihat keangkuhan para Ahokers dalam membully kandidat lain, juga orang-orang lain yang tak sepaham dengan mereka.

Itu membuat saya jadi mikir: berapa banyak orang di luar sana yang jadi benci sama Pak Ahok karena tingkah kita, para Ahokers? Berapa banyak suara untuk Pak Ahok yang sebenarnya dihilangkan oleh Ahokers sendiri, hingga Pak Ahok jadi harus bertarung dua putaran, bukan menang dalam satu?

Edward Suhadi pernah menulis:


Kita selama ini merasa kita paling benar, sampai kita lupa menghargai pilihan orang lain.

Kita selama ini merasa paling benar, sampai kita merasa sah menggoblok-goblokkan orang lain, dan berharap dengan begitu orang itu akan “sadar” dan jadi mengikuti pilihan kita.

Wrong move, brother.


Dari hasil quick count kemarin, bisa hampir dipastikan bahwa Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang maju ke putaran dua Pilkada DKI.

Yuk, jangan kita sebagai Ahokers melakukan kesalahan yang sama di putaran dua ini. Ayo kita lebih banyak berbagi hasil kerja nyata Pak Ahok dan Pak Djarot, lebih simpatik dan berhenti menyerang Mas Anies atau pendukungnya.

Oh, tentu kita masih harus meluruskan jika ada yang menyebarkan berita hoax atau data yang salah, itu wajib hukumnya. Tapi bisa kan, kita lakukan dengan data dan fakta? Dengan menyerang informasinya, bukan orang yang menyebarkannya?

Jangan biarkan Ahokers sendiri yang menjadi penggerus suara Pak Ahok. Jangan bikin kerja keras Pak Ahok jadi sia-sia di jempol dan bibir kita.

Dan yang nggak kalah penting: pastikan hak kalian yang warga DKI terjaga untuk memilih di putaran dua nanti. Cari tahu apakah kalian sudah terdaftar, kalau belum bagaimana caranya supaya bisa tetap memilih, dokumen atau surat apa saja yang perlu kalian bawa, dan bekali diri supaya nggak bisa dicurangi.

Kuota Internet tuh dipakai untuk cari tahu cara pertahankan hak suaramu di putaran dua, bukan untuk share hoax dari website abal-abal atau nyinyirin orang lain, tapi kemudian protes nggak bisa nyoblos di TPS karena kamu tidak “mempersenjatai diri”.

Mari kita berjuang sama-sama. Cemungud, qaqaaaaa!


[TAMBAHAN] Langkah yang Harus Ditempuh Agar Putaran 2 Pilkada DKI Semua Bisa Mencoblos, rangkuman oleh Jurnalis Kompas TV, Tim Marbun. Wajib dibaca dan dilakukan!

Bisakah Kamu Bahagia Tanpa Menikah?

This thought struck me from out of the blue.

Kenapa sih, mayoritas orang Indonesia menjadikan menikah sebagai SATU-SATUNYA tujuan hidup dan cara untuk bahagia?

At least, orang-orang Indonesia yang saya kenal ya.

I mean, I know we live in such a culture where a well-built family is considered as one of the parameter of a happy life, but why should it be the sole cause and purpose of one?

Like, how often do we, if hearing about a fierce ladyboss or colleague, we ask, “Dia pasti belum married, ya?”

Or, if we know a successful businessman yet hold the hands of a wife, we conclude, “Jangan-jangan nggak demen cewek”?

Kenapa menikah dipandang sebagai satu-satunya cara untuk bahagia? Sebagai tempat pelarian dari hidup yang kurang bahagia? (There you go, gue-bosen-kuliah-mau-nikah-aja-squad!)

Kenapa nggak bisa bahagia, meski tanpa menikah? Meski tanpa pacar?

And then you’ll say, “Yaaa orang Indo emang gitu, Kak. Lo mah enak tinggal di luar negeri, yang orang-orangnya lebih mikirin ngejar karier ketimbang nikah.”

Atau, “Yaaa orangtua gue emang gitu, Kak. Lo mah enak ortunya nggak ngejar-ngejar mulu kapan mereka dikasih mantu dan cucu.”

Hey, don’t get me wrong. Saya juga berencana nikah kok, tapi nggak menjadikan hal itu sebagai satu-satunya tujuan hidup saya, atau alasan kenapa hidup saya bahagia.


Ladies, you are worth far above rubies. And you hold no less value, absent a spouse. Until you understand that, I could confidently say that you are not ready for a relationship, even more a marriage.

Live your life, pursue your talent(s) and the path God has graciously given you, and you don’t need to worry about finding your other half. You will, most probably, find YOUR OTHER WHOLE along the way.

‘Till then, be content. Seek a greater purpose. Marriage was never intended to be the only reason you are here on planet earth.

And stop asking people stupid questions like “Kapan nyusul?”, or make silly assumptions that you need to get married to be happy.

But Now, It’s Time to Wake Up

I’ve been addicted to this TV series called SUITS.


Started watching a few months ago on Netflix, when it’s actually already in season 5, and almost failed in finishing the 1st episode due to what-on-earth-are-these-law-jargons, but I’m glad I decided to continue watch…


I am not joking. I even managed to convince my boss to watch it too. And he is as addicted as me now.  HAHA.

I have a few favorite episodes. One of it is S4:E15 which I took many screenshots of and remember the lines between Harvey and Donna to commas and dots.

Another one is when Mike Ross told Gillis, who wanted to expand his company to Asia, but did not managed to do that because… well, that’s a-season-length-story, but here’s the line I remember the most:

Gillis: But that’s my dream!
Mike: Yes. But now, it’s time to wake up

It’s time to wake up.

We have so many dreams, but none of it will turned into reality if we stay asleep.


Kita punya banyak mimpi, tapi harus menerima bahwa itu hanya akan tetap menjadi mimpi (dan lebih baik tetap menjadi mimpi), lalu bangun dan hidup dalam kenyataan.

I don’t know what are your dreams, or how your dreams have been scattered into pieces, but, just like Mike Ross’, here’s my two cents: it’s time to wake up.

Wake up, and turn your dream into reality.

Or wake up, and live your life.